Sebuah Jurnal: Jangan Kau Bunuh Egomu

Perasaan bahagia itu bagaikan mengapung muncul dari dalam bumi, kemudian berubah menjadi pusaran angin yang sejuk dan berputar mengelilingiku dan akhirnya menyelimutiku dalam damai ketika aku kembali menemukan kenikmatan dan kesenangan saat membaca buku. Kebahagiaan itu begitu terasa ketika aku mendapatkan cukup banyak waktu untuk menghadiahi diri sendiri dengan keasyikan yang sederhana ini. Sebenarnya hadiah—berupa…

Sebuah Jurnal: Jangan Sampai Tertipu dengan Kerja Kerasmu Sendiri

Sebagai pembukaan untuk tulisan kali ini, sekali lagi aku ingin mengutip sebuah kalimat yang sangat indah dari seorang Nazril Ilham, “Tulislah apa yang ada di dalam pikiranmu sekarang, tidak harus secepatnya berguna, tetapi yakinlah suatu hari nanti itu akan memiliki arti.” Mengapa aku membuka tulisan dengan mengutip kalimat yang indah ini, jawabannya akan diketahui nanti…

Membaca Lapar-nya Knut Hamsun dan Mengaitkannya dengan Kiai Hologram-nya Cak Nun

Kamu selalu mengeluhkan padatnya pekerjaan sehingga kamu tak punya waktu untuk menulis dan menyelesaikan karyamu. Memangnya berapakah waktu yang kamu butuhkan untuk menghasilkan buku, novel, atau tulisan seperti apa yang diinginkan? Kamu selalu mengeluhkan suasana yang gaduh, lalu kamu berandai-andai seolah-olah kamu yakin dengan pasti jika kamu memiliki ketenangan kamu akan mampu menyelesaikan karyamu, mengeksekusi…

Menjadi Kutu Buku Bukan Jaminan Mutu

Aneh sekali yang selama ini aku lakukan ketika membaca. Yang terjadi dalam keseharianku yang penuh dengan menulis dan membaca. Yang penuh dengan lembaran-lembaran tanpa makna. Yang hanya penuh dengan lembaran-lembaran yang hanya aku yang menganggapnya bermakna. Belum relate untuk orang lain. Belum mampu menulis untuk orang lain. Masih hanya berbagi dari apa yang aku alami….

Detak Jiwa : Sebelum Waktu Bermula

Kasih, engkau yakin aku ada, di satu titik di alam semesta, di satu tempat di bumi meski tak kau sentuh jemari-jemariku ini. Bagaimana engkau bisa seyakin itu, Kasih? Bahkan jika aku sendiri tak merasa nyata, hanya ilusi. Dan jika saat tersadarkan nanti, aku pun tiada. Sungguh pun sebelumnya aku memang tiada saat sebelum waktu bermula.

Sebuah Prosa : Sayap Sang Waktu

“Jatuh cinta padanya? Oh tidak!” katamu pada sahabatku ketika kau ditanya perihal tentangku. Sahabatku itu pun melanjutkannya, menirukan kata-katamu, lengkap dengan ekspresi marah dan semua gerak tubuhmu : “Perlu hati yang telah hancur berkeping-keping, untuk dapat jatuh cinta padanya, perlu tangis yang telah habis untuk dapat memahaminya, perlu ruangan yang telah meledak dalam semestaku agar…

Kehidupan Dalam Pusaran Waktu

Sedetik tak mampu berpaling. Mengerjap, mengerling dan bertahan. Pikiranku kembali menembus ruang dan waktu, menduga-duga apa yang kemudian akan terjadi hari ini, esok hari dan suatu hari nanti. Dimanakah hati ini nanti akan tertanam? Untuk menancapkan akarnya, menulis syair kehidupannya dan mngukuhkan dirinya dalam legenda. Dan pada siapakah dia akan melabuhkan hatinya, mencurahkan jiwanya dan…

Lekuk Waktu

Pada lekuk waktu yang mengikat diriku bersama sunyi. LALA berjalan melangkah diantara dinding gelap. Langkahnya ragu, tetapi hatinya tetap tertuju pada pikirannya. Dari wajahnya yang sendu sepucat awan kelabu melengkung tipis pada bibirnya sepatah kata gerakan mengucap nama, namaku. Itulah lekuk waktu dimana duniaku seketika terhenti menatap pada kasih yang lenganku tak mampu menjabatnya, meski…